PERSAMAAN ITU?

PERSAMAAN ITU? post thumbnail image

Ketika Al-Qur’an menyebut alat yang dipakai untuk ya’qilun, maka yang dirujuk bukanlah akal (‘aql) melainkan qalb (hati). Jadi, dalam Al-Qur’an, dalam konsep Islam, akal itu adalah hati, dan hati itu adalah akal.

Tasawuf, seperti juga filsafat, biasanya dikelompokkan menjadi dua, yaitu nazhaari (teoretis spekulatif) dan amalii (praktis). Meski tingkat-tingkat (maqaamaat) dan keadaan-keadaan (ahwaal) bagi pelaku (salik) yang telah mereka capai merupakan pengalaman (dzauqii). Oleh karena itu bersifat amalii, tetapi pembicaraan atau diskusi tentangnya merupakan nazhari.

Namun, karena pencapaian maqaamaat dan ahwaal itu–sesuai sifatnya yang sepenuhnya bersifat dzauqii (intuitif)–tidak dapat diungkapkan secara memadai secara teoritis atau spekulasi seperti apapun.
Bicara tentang tasawuf tidak melulu terkait fenomena spiritual yang melekat pada diri seorang sufi. Tetapi seberapa mampu mereka mampu menahan diri dari perilaku sombong, angkuh dan sikap-sikap negatif lainnya.
Sehingga kepemilikan kemampuan spiritual (karamah) bagi seorang sufi adalah ujian. Yakni apakah dengan itu mereka akan tetap rendah hati atau justru sombong dan melupakan hakikat kesufian.
Ungkapan-ungkapan di atas seakan-akan memberikan justifikasi bahwa tasawuf adalah aliran yang cenderung bersikap antirasional. Padahal dalam banyak hal al-Qur’an menuntun kita untuk senantiasa menggunakan akal kita.
Untuk menjawab hal tersebut, ilustrasi menarik telah diungkapkan oleh Imam Al-Ghazali terkait hubungan antara hati dan rasio (akal).
Telaga mendapatkan air dari dua sumber. Sumber pertama adalah mata air, dan sumber kedua adalah sungai. Bagaimana caranya supaya kita mendapatkan air yang jernih dan berlimpah?
Caranya adalah dengan memotong aliran sungai itu. Dengan membendung aliran sungai akan terjadi dua hal: pertama, mata air ini akan memancarkan air lebih banyak, karena tidak ada tekanan dari air sungai;
Kedua, airnya dijamin akan lebih jernih, karena air yang datang dari sungai bercampur dengan berbagai macam kotoran.
Kata Imam Al-Ghazali, mata air itu menyimbolkan hati dan sungai itu adalah saluran akal (rasio). Kalau ingin mendapatkan hati yang lebih bening, maka rasio harus kita tutup.
Meskipun maksud Imam Al-Ghazali tentang penutupan rasio ini dilakukan pada tahap lanjut proses berpikir.
Lebih jauh Al-Ghazali menjelaskan bahwa ada wilayah tertentu dalam tasawuf tidak dapat diungkapkan secara rasional. Ia mencontohkan, bagaimana mungkin menjelaskan rasa buah apel kepada orang yang belum pernah memakannya.
Metafora yang lain diungkapkan bahwa bagaimana mengungkapkan pengalaman (kenikmatan) hubungan seks kepada bujang atau lelaki impoten. Dengan kata lain, tidak mungkin.
Di dalam Al-Qur’an, menurut Haidar Bagir (Tasawuf Positif, 2005), tidak bisa diperoleh pemahaman yang menghadapkan hati dan akal secara berlawanan. Dalam Al-Qur’an, istilah “akal” dalam bentuk kata benda verbal (mashdar) tidak ditemukan.
Yang ada, menurut Bagir, adalah kata kerja, yakni ya’qilun (proses berpikir dengan menggunakan akal). Jadi ketika Al-Qur’an menyebut alat yang dipakai berpikir (ya’qilun), maka yang dirujuk bukanlah akal (‘aql) melainkan qalb (hati).
Jadi argumentasi tersebut di atas ingin menjelaskan satu pandangan bahwa hati dan akal dalam Islam itu memiliki persamaan makna dalam konteks pemikiran tasawuf.
#30DWCjilid17
#Fightersquad9
#Day27

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post