Teologi bunuh diri’ jika menyusup ke ranah politik akan bermetamorfosis menjadi ‘teologi perang’KOMARUDDIN HIDAYAT
![]() |
| PM New Zealand, Jacinda Arden |
Baru saja kita mendapatkan berita duka dari sebuah negara yang konon kabarnya memiliki index ke-islam-an terbaik di dunia, New Zealand. Sebuah tindakan terrorism kata PM New Zealand, Jacinda Ardern. Serangan bersenjata pada dua masjid di negara tersebut, menurut KBRI Wellington, ada 49 orang tewas, terdiri atas 41 orang di Masjid Al Noor, 7 orang di Masjid Linwood, dan seorang lagi tewas saat dirawat di RS pasca penembakan. Selain itu, ada puluhan orang yang masih dirawat di rumah sakit akibat peristiwa itu.
Belajar dari peristiwa tersebut mencerminkan bahwa pemahaman agama yang diikuti hanya melihat sisi jalil-Nya saja, melihat agama hanya terkait dengan aturan fikih saja tanpa mempraktikkan sisi jamal-Nya. Sisi jamal ini terkait dengan asah batin kita.
Jadi sesungguhnya perbedaan itu rahmat, tetapi sisi batinlah yang bisa menerima perbedaan itu. Maka apabila agama telah sampai pada relung hati yang paling dalam. Saat itulah agama menjadi penerang bagi setiap umat manusia.
Beragama itu tidak dilihat dari cara berpakain saja, tetapi agama itu mesti tercermin dari akhlak setiap penganutnya. Bahkan Nabi berkata, “Saya diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia.” Maka marilah kita menerima perbedaan itu menjadi sesuatu yang indah.
Sesungguhnya indah itu ketika perbedaan-perbedaan menjadi satu. Lihatlah pelangi, tentu ia tidak akan indah dipandang apabila ia hanya satu warna. Keindahan pelangi itu karena ia berwarna.
#Perbedaan

