PERBEDAAN ITU RAHMAT

PERBEDAAN ITU RAHMAT post thumbnail image
Teologi bunuh diri’ jika menyusup ke ranah politik akan bermetamorfosis menjadi ‘teologi perang’
KOMARUDDIN HIDAYAT
PM New Zealand, Jacinda Arden

Baru saja kita mendapatkan berita duka dari sebuah negara yang konon kabarnya memiliki index ke-islam-an terbaik di dunia, New Zealand. Sebuah tindakan terrorism kata PM New Zealand, Jacinda Ardern. Serangan bersenjata pada dua masjid di negara tersebut, menurut KBRI Wellington, ada 49 orang tewas, terdiri atas 41 orang di Masjid Al Noor, 7 orang di Masjid Linwood, dan seorang lagi tewas saat dirawat di RS pasca penembakan. Selain itu, ada puluhan orang yang masih dirawat di rumah sakit akibat peristiwa itu.

Padahal, beberapa hari sebelumnya, tepatnya 13 Maret 2019 kita juga dikejutkan dengan peristiwa bom bunuh diri di Sibolga Sumatera Utara. Peristiwa itu terjadi saat Husain alias Abu Hamzah, terduga teroris, ditangkap.
Dua peristiwa tersebut merupakan tindakan yang mengatasnamakan ‘agama.’ Tindakan pertama karena islamophobia dan yang lain atas nama jihad menegakkan Islam.
Apa yang salah terhadap kedua keyakinan tersebut? Mereka berangkat dari pemahaman agama yang mereka pahami secara ‘keliru’. Padahal Islam adalah agama rahmah dan demikian juga agama Nasrani, misalnya, dikenal sebagai agama kasih.
Kedua kejadian tersebut di atas, seakan-akan ingin menggambarkan bahwa perbedaan itu tidak baik. Padahal kalau kita merujuk pada sejarah kenabian. Maka kita dapat mengambil hikmah dari Negara Islam Madinah di bawa kepemimpinan Baginda Rasulullah saw. Beliau membuat perjanjian bersama untuk hidup saling melindungi satu sama lain di antara penganut agama-agama di Madinah, yang kita kenal dengan Piagam Madinah.

Belajar dari peristiwa tersebut mencerminkan bahwa pemahaman agama yang diikuti hanya melihat sisi jalil-Nya saja, melihat agama hanya terkait dengan aturan fikih saja tanpa mempraktikkan sisi jamal-Nya. Sisi jamal ini terkait dengan asah batin kita.

Jadi sesungguhnya perbedaan itu rahmat, tetapi sisi batinlah yang bisa menerima perbedaan itu. Maka apabila agama telah sampai pada relung hati yang paling dalam. Saat itulah agama menjadi penerang bagi setiap umat manusia.

Beragama itu tidak dilihat dari cara berpakain saja, tetapi agama itu mesti tercermin dari akhlak setiap penganutnya. Bahkan Nabi berkata, “Saya diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia.” Maka marilah kita menerima perbedaan itu menjadi sesuatu yang indah.

Sesungguhnya indah itu ketika perbedaan-perbedaan menjadi satu. Lihatlah pelangi, tentu ia tidak akan indah dipandang apabila ia hanya satu warna. Keindahan pelangi itu karena ia berwarna.

#30DWCjilid17
#Fightersquad9
#Day28
#Perbedaan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post