Bagi kaum sufi, syariat adalah landasan tasawuf (thariqah), sedangkan thariqah adalah jalan menuju hakikat (haqiqah atau kebenaran sejati)
SYARIAH VS THARIQAH
Categories:
Salah satu masalah kontroversial tentang tasawuf adalah anggapan bahwa kaum sufi menyepelekan keharusan mentaati kewajiban-kewajiban syariat.
Kesalahan tersebut adalah pemahaman yang paling fatal tentang tasawuf. Padahal tak ada satu pun tokoh tasawuf sepanjang sejarah pernah menyatakan atau menunjukkan sikap meremehkan syariat. Yang ada, justru sebaliknya, syariat dalam tradisi tasawuf sangat kuat.
Kenapa dikatakan syariat mereka sangat kuat? Karena kaum sufi pada saat yang sama dikenal sebagai aabid atau ‘ubbaad (para ahli ibadah).
Bahkan, dalam pandangan mereka, tak ada jalan lain untuk menempuh tasawuf (biasa disebut juga thariqah) kecuali melalui penyelenggaraan ibadah-ibadah syar’i. Makin sufi seseorang, makin intens ibadah-ibadah dilakukannya.
Ada ungkapan tentang jati diri para sufi ini bahwa: “tingkatan kesufiaan seseorang justru ditentukan oleh intentitas ibadahnya–seberah saleh ia dalam beribadah”
Hampir seluruh sumber yang berbicara tentang tradisi kaum sufi ini menyimpulkan bahwa sikap ihsan dalam beribadah merupakan cara beribadah tertinggi dalam ber-Tuhan. Ihsan adalah beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Atau, kalau kau tak dapat melihat-Nya, maka seakan-akan Dia melihatmu.
Hal tersebut dikarenakan umumnya sufi mengidentikkan tasawuf dengan ihsan. Artinya, tasawuf pada intinya adalah beribadah kepada Allah. Hanya saja, dalam tasawuf, ditekankan agar ibadah hendaknya tidak semata-mata gerakan-gerakan fisik yang kosong, melainkan penuh khusyu’ dan khudhu’.
Khusyu’ atau khudhu’ adalah menghadirkan hati penuh kerendahan di hadapan Allah SWT.
#30DWCjilid17
#Fightersquad9
#Day26