MULAI DENGAN HATI YANG JUJUR

“Nafsu adalah seperti bayi yang disapih. Ia akan meronta-ronta jika tidak diberi apa yang diminta.”



Memahami aspek esetorik Islam tentu membutuhkan ilmu alat. Ilmu itu dikenal dengan nama Tasawuf. Tasawuf ini memiliki dua aspek: aspek teoretis (nazhari) dan aspek praktis (amali’).



Aspek praktis tasawuf meliputi tata cara hubungan manusia terhadap dirinya sendiri, dunia dan Tuhan. Dalam aspek ini tasawuf memiliki kesamaan–di samping juga beberapa perbedaan–dengan akhlak (etika). Aspek praktis tasawuf ini disebut suluk (perjalanan dan perlintasan). Sementara orang yang melakukan perjalanan tasawuf ini disebut salik.



Perjalanan ini meliputi berbagai tahap (maqam) atau tingkatan dan keadaan jiwa (haal). Tasawuf praktis tidak pernah lepas dari perhatiannya akan hubungan manusia dengan Tuhan. Walaupun pembahasan hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan alam tidak pernah lepas dari kajian tasawuf ini.



Sedangkan tasawuf teoretis berkaitan dengan pemahaman tentang wujud, yakni tentang Tuhan, manusia, dan alam semesta. Keberadaan segala sesuatu, Tuhan, manusia dan alam semesta menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kajian tasawuf.



Berbeda dengan filsafat yang mendasarkan argumentasinya pada prinsip-prinsip rasional, maka tasawuf mengandalkan pada pencerahan intuitif (isyraaq, kasyf) atau pengalaman (perasaan) spiritual (dzauq). Maka tasawuf ini para prinsipnya ilmu tentang menata hati (qalb atau fu’ad).



Bagaimana cara kerja tasawuf praktis ini? sebenarnya dapat disejajarkan dengan disiplin yang diperlukan dengan ilmu apa pun. Misalnya, dalam pelajaran matematika, ada dalil-dalil (rumus-rumus) dan aksioma-aksioma (pernyataan-pernyataan) yang harus dipelajari secara bertahap dan sistematis sebelum seseorang mampu memecahkan soal matematika yang lebih rumit.



Annemarie Schimmel menamsilkan (mengibaratkan) tasawuf praktis ini dengan upaya seorang atlet hebat. Menjadi hebat, tentu melewati proses yang sangat panjang. Latihan dan disiplin yang tinggi serta butuh waktu yang tidak sebentar.



Seperti itulah gambaran latihan-latihan spiritual yang diperlukan oleh orang-orang yang hendak meraih derajat tertinggi dalam spiritual.



Jika dirumuskan secara teliti, maka tasawuf itu harus melewati tiga ranah pendidikan Islam: kognitif (intelektual), afektif (emosional) dan praktik. Hal ini dikarenakan besarnya gangguan nafsu–al-nafs al-amaarah bi al-suu’ (nafsu yang mendorong ke arah keburukan)–yang terus menggoda manusia.



Tak cukup sekedar kesadaran akan pentingnya akhlak baik. Sentuhan emosional benar-benar bisa melahirkan tingkah laku yang sesuai dengan akhlak Islam. Mempraktikkan sikap jujur dalam hidup hanya merupakan satu dari sekian banyak perilaku akhlak yang baik.



Kenapa kejujuran menjadi penting dari sikap akhlak yang terpuji ini? Karena godaan nafsu begitu kuat dalam diri setiap manusia. Sehingga manusia harus jujur mengatakan bahwa ia selalu membutuhkan petunjuk Tuhan untuk menuntunnya menuju kepada-Nya. Selain itu sikap jujur juga penting untuk mengolah kesabaran dan kekuatan hati dalam menghadapi hidup.



Kejujuran hanya satu hal yang bisa dipraktekkan sebagai latihan awal menapaki tangga spiritual menuju kepada-Nya. Maka mari menapaki tangga spiritual kita dimulai dengan hati yang jujur.


#30DWCjilid17
#Fightersquad9
#Day16
#kejujuran

1 thought on “MULAI DENGAN HATI YANG JUJUR”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post