SIKAP ZUHUD DALAM ISLAM II

Jangan terlalu memikirkan dunia IBN ‘ARABI

Zuhud adalah sikap memalingkan wajah dari kenikmatan dunia dan senantiasa melakukan aktivitas duniawi dengan beriontasi pada akhirat.
Telah masyur sebuah kisah tentang seorang syaikh yang hidup sederhana. Dia makan sekedar kebutuhan untuk bertahan hidup saja. Ia berprofesi sebagai nelayan, setiap pagi memancing ikan. Setelah mendapat ikan yang banyak, maka ia membagi ikan itu menjadi dua bagian. Badan ikan dia bagikan kepada tetangga di sekitar rumahnya, dan bagian kepala dia olah untuk dirinya di rumah.
Kebiasaan sang Syaikh hanya menikmati kepala ikan hasil tangkapannya. Sehingga dia diberi julukan Syaikh Kepala Ikan. Dia seorang sufi yang memiliki banyak murid.
Pada suatu hari, salah seorang muridnya hendak ke Mursia, sebuah daerah di Spanyol. Di Mursia, hidup seorang syaikh sufi besar yang dikenal sebagai Syaikh Akbar, yang juga merupakan guru Syaikh Kepala Ikan.
“Tolong kamu mampir ke kediaman guruku di Mursia, dan mintakan nasehat untukku,” pesan syaikh kepada muridnya.
Berangkatlah si murid ke Mursia dalam rangka berdagang. Setibanya di Mursia, dia mencari-cari rumah Syaikh Akbar. Dalam pikirannya, si murid ini membayangkan seorang syaikh yang kehidupannya tidak jauh berbeda dengan kehidupan gurunya, Syaikh Kepala Ikan.
Tapi ternyata orang menunjukkan kepadanya sebuah rumah besar dan luas. Dia tidak percaya, mana ada seorang sufi besar tinggal di sebuah bangunan mewah dan mentereng, penuh dengan pelayan-pelayan dan sajian-sajian buah-buahan yang lezat.
Antara percaya dan tidak, si murid bergumam, “Guru saya hidup dengan begitu sederhana, sementara orang ini sangat mewah. Bukankah dia gurunya guru saya?”
Karena menjalankan perintah gurunya, si murid tadi masuk dan menyatakan maksud kedatangannya. Dia pun menyampaikan salam gurunya dan memintakan nasehat untuknya. Syaikh Akbar pun berkata:

Bilang ke dia, jangan terlalu memikirkan dunia.

Si murid pun tambah heran dan agak kesal, tak mengerti. Dalam hatinya, ia berkata, “Syaikh ini hidup sedemikian kaya, dimintai nasehat oleh orang miskin malah menyuruh jangan memikirkan dunia.” Akhirnya dia pun pulang.
Setibanya dari perjalanan itu, si murid pun menemui gurunya dan menyampaikan pesan Syaikh Akbar. Mendengar nasehat dari gurunya, Syaikh Kepala Ikan hanya tersenyum dan sedikit sedih. 
Melihat eskpresi gurunya, si murid pun bertanya, “Apa maksud nasehat itu?”, Guru itu pun menjawab, “Syaikh Akbar itu benar. Menjalani hidup tasawuf itu bukan berarti harus hidup miskin. Yang penting hati kita tidak terikat oleh harta kekayaan yang kita miliki dan tetap terpaut dengan Allah SWT.”
Lebih lanjut, Syaikh berkata, “Bisa jadi orang miskin harta, tapi hatinya terus memikirkan dunia. Saya sendiri ketika makan kepala ikan, masih sering membayangkan bagaimana enaknya makan daging ikan yang sebenarnya?”
Pesan kisah ini menjelaskan dua hal: menjadi orang kaya itu tidak mesti jauh dari kehidupan sufi dan menjadi miskin tidak otomatis mendekatkan orang pada kehidupan sufistik.

#30DWCjilid17
#Fightersquad9

#Day23

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post