Suatu bagian dari sejarah yang hilang dari agama (Islam), yaitu TasawufROGER GARAUDY
Bicara tentang Islam hari ini sedang memasuki babak baru, dengan Media sosial semakin mudah orang mendapatkan pelajaran agama yang dikemas sebagai bagian dari infotaiment di Televisi, lihat saja bermunculan penceramah-penceramah agama dari berbagai kalangan. Jadi penceramah tidak lagi mengharuskan Anda menguasai ilmu agama sebagaimana ahli-ahli agama masa awal.
Penceramah sekarang telah menjadi profesi yang mengiurkan untuk mendulang rupiah. Lihat saja, di channel-channel youtube, para penceramah mewakili kepentingan kelompok-kelompok tertentu. Tidak lagi menjadikan “CINTA” sebagai ruh dari siar Islam. Hujatan, umpatan dan caci-maki telah menjadi manis di lidah para penceramah tersebut.
Apa yang salah dengan keadaan ini? Tergambar jelas bahwa cara beragama kita semakin jauh dari ruh ajaran Islam. Beragama tidak lagi dengan kasih sayang. Berbeda pandangan, sesat. Padahal Nabi mengajarkan kita untuk selalu mencintai dan mengasihi sesama.
Benar kata Roger Garaudy bahwa kita dalam beragama kehilangan cara yang telah diajarkan oleh Nabi SAW. yaitu jalannya orang-orang zuhud dalam beragama. Rabi’ah Al-Adawiyah misalnya, adalah perempuan teladan di dalam menghambakan diri kepada Allah SWT.
Cara menghambakan diri kepada Allah SWT diajarkan dalam ilmu tasawuf. Ilmu inilah yang diamalkan para ulama-ulama terdahulu sehingga mereka berdebat secara ilmiah tetapi tetap santun. Guru murid berbeda dalam pandangan tetapi tetap saling menyayangi.
Syekh Abdul Qadir al-Jailani berpendapat bahwa tasawuf adalah
mensucikan hati dan melepaskan nafsu dari pangkalnya dengan
khalwat, riyaadloh, taubah dan ikhlas. Al-Junaidi berpendapat bahwa tasawuf adalah membersihkan
hati dari yang mengganggu perasaan, memadamkan kelemahan,
menjauhi seruan hawa nafsu, mendekati sifat-sifat suci
kerohanian, bergantung pada ilmu-ilmu hakikat, menaburkan
nasihat kepada semua manusia, memegang teguh janji dengan
Allah dalam hal hakikat serta mengikuti contoh Rasulullah
dalam hal syari’at.
mensucikan hati dan melepaskan nafsu dari pangkalnya dengan
khalwat, riyaadloh, taubah dan ikhlas. Al-Junaidi berpendapat bahwa tasawuf adalah membersihkan
hati dari yang mengganggu perasaan, memadamkan kelemahan,
menjauhi seruan hawa nafsu, mendekati sifat-sifat suci
kerohanian, bergantung pada ilmu-ilmu hakikat, menaburkan
nasihat kepada semua manusia, memegang teguh janji dengan
Allah dalam hal hakikat serta mengikuti contoh Rasulullah
dalam hal syari’at.
Jadi ilmu tasawuf ini adalah jalan menuju kepada Allah SWT. Hanya dengan jalan inilah manusia mampu kembali kepada-Nya dengan selamat. Dalam tasawuf, manusia diajarkan mengenal dirinya sebagai hamba. Melakukan latihan-latihan majemen hati, sehingga terhindar dari seluruh sifat negatif dalam dirinya. Latihan itu berupa amalan-amalan zikir yang biasanya disandarkan kepada seorang guru Musyid sebagai pembimbing rohani seseorang.
Maka marilah “Menjadi Manusia Rohani,” kata Gus Ulil Abshar Abdalla dalam syarah Kitab al-Hikam-nya Syekh Ibnu Atha’illah al-Iskandari.
Maka marilah “Menjadi Manusia Rohani,” kata Gus Ulil Abshar Abdalla dalam syarah Kitab al-Hikam-nya Syekh Ibnu Atha’illah al-Iskandari.
#30DWCjilid17
#Fightersquad9
#Day9