Muhammad–Sang Sufi Teragung–memilih untuk kembali ke dunia dan mengejawantahkan “persatuannya” dengan Allah dalam bentuk kekuatan revolusioner untuk mereformasi kaumnya, dan membebaskan umat manusia dari perampasan hak-hak mereka.HAIDAR BAGIR
Terkait dengan masalah tersebut, Allah SWT berfirman: “Carilah dalam karunia Allah yang dianugrahkan kepadamu kebahagiaan akhirat, dan jangan lupa bagianmu di dunia ini. Dan berbuat baiklah kamu sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu.”(QS. Al-Qashsah [28]: 77)
Ada satu kisah yang disandarkan kepada Imam ‘Ali ibn Abi Thalib dengan sahabatnya ‘Ala ibn Ziyad Suatu ketika, Imam Ali menjeguk ‘Ala yang sedang sakit. Setibanya di kediaman ‘Ala, Imam Ali melihat rumah sahabatnya begitu besar dan mewah.
Setelah bersalaman dan menanyakan kesehatannya, Imam Ali berkata, “Wahai ‘Ala, buat apa rumah besar dan mewah ini?” Belum sempat ‘Ala menjawab, Imam Ali meneruskan, “….tapi, jika kamu ingin punya rumah besar di dunia, sekaligus rumah besar di akhirat, gunakanlah rumahmu ini untuk tempatmu melakukan amal-amal saleh.”
Riwayat lain mengisahkan tentang seorang sufi, Abu bin Azhim, bermimpi bertemu malaikat. Sang Malaikat membawa sebuah buku yang di dalamnya terdapat daftar nama-nama orang yang mencintai Allah SWT. Muncul rasa penasaran di hati bin Azhim, lalu dia berkata:
“Bolehkan saya melihatnya?” Maka sang Malaikat pun memberikan kesempatan kepada Azhim untuk melihat dokumen alam gaib itu. Dengan harap cemas dicarilah namanya sendiri. Tidak ada! Azhim begitu sedih melihat bahwa ternyata dia tidak termasuk orang yang mencintai Allah.
Dalam kesedihan itu, Azhim meminta tolong kepada Malaikat itu, “Tolong catat nama saya sebagai pecinta manusia.”
Malam berikutnya, bin Azhim, yang memang pecinta yang sangat peduli terhadap orang-orang di sekitarnya, kembali bermimpi bertemu Malaikat tersebut. Dalam mimpi itu, ia masih melihat malaikat itu membawa buku daftar nama-nama pecinta Allah. Bin Azhim, lagi-lagi ingin melihat buku catatan itu.
Pada kesempatan itu, diberikan lagi buku tersebu oleh sang Malaikat–kali ini–dia menemukan namanya di sana.
Kisah-kisah di atas menjelaskan kepada kita bahwa hidup berkecukupan atau pun mapan, tidaklah membuat seseorang jauh dari Allah SWT apabila mereka tidak membiarkan saudara-saudara di sekitarnya kelaparan karena tiada memiliki.
Zuhud dapat dimaknai, hidup di dunia dengan segala hiasan yang melekat padanya, tetapi hati tetap terpaut kepada Allah SWT dan mencintai sesama sebagaimana Nabi SAW memilih kembali ke dunia untuk mengaplikasikan cinta kepada Allah SWT dengan membina dan mendidik umat manusia, untuk dapat kembali kepada-Nya dengan selamat.
#30DWCjilid17
#Fightersquad9
#Day24