PESONA ISLAM YANG HILANG


Sesungguhnya ini adalah peringatan, maka ada jalan kepada Rabb bagi siapa yang mau.” (QS. Al-Muzzammil [73]: 19).


Tasawuf, bagi pendukungnya, tak lain dan tak bukan adalah jalan yang dipraktikkan oleh Nabi SAW. Kaum sufi, dalam hal ini, merasa mendapatkan penguatan atas paham mereka dari hadis: “Langit dan bumi tak dapat menampung-Ku. Hanya hati seorang Mukmin yang cukup luas untuk menampung-Ku.”


Hati yang cukup luas untuk menampung Allah inilah adalah hati yang telah dibersihkan dari kotoran akibat kecintaan berlebihan kepada dunia. Hal tersebut disebabkan karena hati yang terlalu terpesona untuk berbuat maksiat (al-nafs al-ammaarah bi al-suu).


Karena setiap Mukmin berbuat maksiat, akan memunculkan sebuah noktah hitam yang mengotori hatinya. Makin banyak ia berbuat maksiat, makin banyak noktah hitam yang menutupi hatinya.

Rudolf Otto, ahli fenomenologi agama, menyebutkan ada dua situasi pertemuan manusia dengan Tuhannya. Pertama, Tuhan tampil di hadapan manusia sebagai suatu “misteri yang menggentarkan.” Pada situasi lainnya, Dia hadir sebagai “misteri yang memesonakan.”(Bagir, 2005).

Sementara Van der Leeuw melihat Islam (juga agama Yahudi) mewakili situasi pertama. Dan meletakkan Kristen pada konsep kedua yang didominasi cinta. Namun, pendapat ahli, seperti Annemarie Schimmel, melihat bahwa sesungguhnya Islam tak kurang mempromosikan orientasi cinta dalam hubungan antara manusia dengan Tuhannya.

Sesungguhnya telah dikenal dalam khazanah Islam klasik bahwa kedua situasi di atas, yakni aspek kedahsyatan yang menggentarkan (disebut jalaal) dan aspek keindahan yang memesonakan (jamaal). Walaupun  selama berabad-abad–khususnya abad modern–kaum muslim sepertinya lupa pada sisi esoteris agama Islam.

Akhirnya, tepatlah kiranya pernyataan para fenomenolog agama yang mengatakan bahwa Islam hanya memiliki sisi eksoteris yang melulu berorientasi  nomos (syariah dalam arti sempit, hukum) dan kering dari orientasi eros (cinta, hubb).

Padahal, menurut Annemarie Schimmel bahwa Islam justru lebih memuji orientasi cinta ketimbang orientasi yang didominasi rasa takut. Al-Qur’an menegaskan hubungan cinta antara Allah Sang Pencipta (al-waduud) dan manusia dapat dilihat dalam QS. Al-Maidah [5]: 54; Al-Baqarah [2]: 165, 216.

Coba simak salah satu ayat yang dimaksud, “Adapun orang-orang yang beriman itu, sangat dalam kecintaan mereka kepada Allah.” Demikian pula kalau kita menyimak al-asmaa al-husnaa, nama-nama Allah dalam aspek jamaal, seperti Maha Pengasih (ar-Rahman), Maha Penyayang (ar-Rahim), Maha Pecinta (al-Waduud), Maha Pemaaf (al-Ghafuur), Maha Penyabar (al-Shabuur), Maha Lembut (al-Lathiif) dan seterusnya.

Hal demikian tentu memperlihatkan bahwa sesungguhnya Islam adalah agama yang menganjurkan pentingnya pesona cinta menjadi utama. Dalam hadis qudsi dijelaskan bahwa “Sesungguhnya kasih sayang-Ku mendahului kemurkaan-Ku.” Dalam Al-Qur’an pun Allah menyatakan bahwa “Telah menetapkan atas diri-Nya sifat pengasih (rahmat),” serta mengajarkan bahwa rahmat-Nya “seluas langit dan bumi” dan “meliputi segala sesuatu.”

Demikianlah Pesona Islam yang hilang. Hal ini terjadi karena para penganutnya tidak lagi ingin mempelajari tasawuf sebagai jalan mengolah hati untuk senantiasa hidup dipenuhi oleh cinta kasih.

#30DWCjilid17
#Fightersquad9
#Day18
#pesona

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post