MANUSIA MEMBACA TUHAN

“Moskow, 1980-an, Mikail Gorbachev menyaksikan
pertunjukan akrobatik pesawat tempur. Ketika dua pesawat nyaris bertabrakan,
tanpa sadar dia berteriak: “Oh my God!.” Bahkan, orang komunis pun merindukan
Tuhan…”

AUDIFAX

Memahami Tuhan tentulah
tidak mudah. Memahami tentu diawali dengan mengenal-Nya. Mengenal tentu diawali
dengan mendekatkan diri kepada-Nya. Mendekatkan diri tentu diawali karena
cinta. Maka “katakanlah (hai Muhammad), jika kamu cinta kepada Tuhan, maka ikutlah
aku, Tuhan akan cinta kepadamu dan mengampuni dosa-dosamu.”
(QS. Ali Imran
[3]: 31).

Tuhan mengajarkan
kepada Nabi bahwa mengenal Tuhan itu harus diawali dengan ketaatan “ikutlah aku”
dengan mengikut kepada Nabi pada akhirnya kita akan menemukan cinta Tuhan. Oleh
karena itu, manusia harus menyadari bahwa kehidupan adalah perjalanan spiritual
yang dibimbing oleh kebetulan-kebetulan misterius. Bahwa ada sesuatu yang harus
disadari dan dimaknakan di balik kejadian-kejadian kebetulan dalam hidup kita.

Misalnya, suatu
ketika, kita mungkin punya firasat atau intuisi mengenai sesuatu yang ingin
kita lakukan, arah yang ingin ditempuh, dan meragukan bahwa hal itu mungkin
terjadi. Namun ketika lupa tentang itu, tiba-tiba ketemu seseorang atau membaca
sesuatu atau pergi ke suatu tempat yang ternyata menuntun kita ke arah
kesempatan yang kita impikan.

Peristiwa-peristiwa
yang dianggap kebetulan itu terjadi lebih sering lagi, dan ketika terjadi, kita
merasakan hal itu melampaui apa yang bisa kita harapkan untuk suatu kebetulan
yang murni. Kebetulan-kebetulan itu terasa telah diatur sebelumnya, seolah
hidup kita telah dibimbing oleh kekuatan yang tidak bisa dijelaskan.

Henri Courbin
kemudian menjelaskan makna “sebelum alam-alam ada, dan sebelum alam-alam ini
jadi, zat yang Maha Suci itu adalah rasa cinta, pecinta dan yang dicintai.”

Hal ini menggambarkan bahwa rasa cinta tidak berpisah dari suatu objek kepada
objek lainnya, dari suatu objek manusiawi kepada objek Ilahi. Yang terjadi
adalah metamorfosis (pergantian sifat) dari si subjek.

Sesungguhnya dengan
memahami kebetulan-kebetulan dalam hidup dan mengatakan bahwa ada hal di luar
sana yang mengatur kebetulan-kebetulan itu. Bahwa perintah Allah untuk
mengikuti dan menaati Nabi adalah jalan manusia untuk mampu membaca keinginan Tuhan.
Jalan itu adalah Tasawuf.
#30DWCjilid17
#Fightersquad9

#Day7

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post