DARI TASAWUF KE TAREKAT

Praktik asketisme dalam Islam pada abad ke-1 H sampai abad ke-2 H telah berkembang lebih jauh pada abad ke-3 H awal sampai abad ke-4 H. Fase kedua dari perkembangan asketisme ini adalah lahirnya metode ber-tasawuf.

Karya-karya yang mengulas tentang cara bertasawuf tersebut di antaranya: Karya Al-Harits ibn Asad al-Muhasibi (w. 243 H), Abu Said al-Kharraz (w. 279), Al-Hakim al-Tirmidzi (w. 285 H), dan Junaid al-Baghdadi (w. 297 H).

Perkembangan gerakan tasawuf ini di masa berikutnya juga melahirkan gerakan yang memperkenalkan tasawuf yang berorientasi pada sukr (kemabukan) antara lain: Al-Hallaj dan Ba Yazid al-Busthami.

Di antara ciri tasawuf mereka adalah lontaran-lontaran ungkapan ganjilyang seringkali susah dipahami dan terkesan melanggar keyakinan umum kaum Muslim. Misalnya, “Akulah Sang Kebenaran ” (Anaa al-Haqq), atau “Tak ada apa pun dalam jubah–yang dipakai al-Busthami–selain Allah” (maa fil-jubbah illaa Allaah), dan sebagainya.

Memasuki Abad ke-6 H, kembali terjadi pergeseran paradigma dalam tasawuf. Masa ini dikenalkan istilah tasawuf falsafi. Tasawuf falsafi merupakan perpaduan antara pencapaian pencerahan mistikal dan pemaparan secara rasional-filosofis.

Salah satu tokoh utama aliran ini adalah Ibn ‘Arabi, di samping juga Al-Qunawi, muridnya. Sebagian ahli juga memasukkan Al-Hallaj dan Abu (Ba) Yazid al-Busthami ke dalam kelompok ini.

Aliran ini kadang disebut juga ‘irfaan (Gnostisime) karena orientasinya pada pengetahuan (ma’rifat atau gnosis) tentang Tuhan dan hakikat segala sesuatu.

Memasuki abad ke-7 H, kembali terjadi pergeseran kajian terkait esetoris dalam Islam. Masa ini dikenalkan tarekat sebagai jalan menuju kepada-Nya. Walaupun pada dasarnya tarekat ini telah dikenal jauh sebelumnya. Seperti Tarekat Junaidiyyah yang bersumber dari ajaran Abu al-Qasim al-Junaid al-Baghdadi (w. 297 H) atau Tarekat Nuriyyah yang didirikan oleh Abu Hasan ibn Muhammad Nuri (w. 295 H).

Tetapi baru pada abad ke-7 H, perkembangan tarekat demikian pesatnya. Masa ini lahirlah Tarekat Qadiriyyah yang bersumber dari ajaran Abdul Qadir al-Jilani (w. 578 H), dan Tarekat Suhrawardiyyah yang didirikan oleh Abu Najib al-Suhrawardi (w. 563 H).

Namun, dari semua tarekat yang berkembang dalam sejarah tasawuf, yang paling banyak pengikutnya adalah Tarekat Naqsabandiyah. Tarekat yang sekarang ini telah memiliki banyak variasi. Tarekat ini pada mulanya didirikan di Bukhara, Asia Tengah oleh Muhammad ibn Muhammad Bahauddin al-Uwaisi al-Bukhara Naqsyabandi.

Demikianlah perkembangan tasawuf menuju tarekat yang kita kenal hari ini. Tarekat ini merupakan jalan bagi para pencari Tuhan. Dengan tarekatlah manusia tercerahkan jalannya menuju Tuhan.

#30DWCjilid19
#Fightersquad9
#Day21

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post