FILSAFAT KENABIAN IV

Manusia tidak akan dapat memikirkan Tuhan secara
langsung dengan tidak memakai bantuan, oleh karena itu Tuhan itu berdiri
sendiri terpisah dari alam. Tuhan dalam wanita adalah yang paling kuat dan
paling sempurna; dan persatuan yang sangat erat dan mendalam adalah hubungan
suami istri.”
IBN
ARABI
, Fushushul Hikam

Imajinasi profetik
dalam diri manusia mempunyai suatu yang mirip dengannya di dalam alam. Ia hanya
sesuatu fungsi yang menerima realitas yang lebih mendalam yaitu
tindakan-tindakan kreatif dari Tuhan dalam ayat-ayat (bukti-bukti) yang Ia
tunjukkan melalui peristiwa-peristiwa sejarah. Perubahan-perubahan besar dan
inspirasi-inspirasi dalam hati dan jiwa manusia.
Memahami imajinasi
profetik ini hanya akan mampu dibahasakan dengan kata-kata berdasarkan analogi
dengan penciptaan syair-syair. “Saya mengkhayalkan bahwa Tuhan menciptakan
manusia dengan mengimajinasikannya.”
Imajinasi dalam diri kita hanya
merupakan imaji yang jauh, sebagaimana cinta manusiawi hanya merupakan imaji yang jauh dari cinta Ilahi. Walaupun jauh, akan tetapi profetik dan pembawa
berita tersebut mendekatkan kita pada makna sebenarnya.
Dibalik simbol
profetik tentang keindahan dan cinta sebagai ayat-ayat (bukti-bukti) ke hadirat
Tuhan terdapat bagi tiap-tiap orang dan lebih jauh daripada sesuatu yang
mengajaknya untuk menjadi seperti ia sekarang. 
Inilah yang oleh Ibn Arabi dinamakan: “Nabi dari wujudmu.” Artinya,
apa yang merupakan kejadianku, tanpa dapat dilaksanakan sendiri; hal ini
menurut istilah sufi dari Ibn Arabi, Ibnu Sina dan Suhrawardi, dinamakan
malaikat (malaikat bukan dalam arti yang tersebut dalam rukun iman).
Lebih lanjut Ibn
Arabi menjelaskan bahwa dalam salat, wujud kita tertarik kepada-Nya, sama
dengan keadaan bunga lotus atau bunga heliotrope, yang tidak merupakan
permohonan, akan tetapi merupakan cara berada, atau cara menghubungkan manusia
dengan Tuhan.
Dengan begitu,
ahli-ahli tasawuf mengatakan bahwa doa manusia kepada Tuhan tidak lain dari doa
Tuhan dalam manusia. Dalam Al-Futuhat al-Makkiah (Revelations) Ibn Arabi
menulis: “Pada hakikatnya manusia tidak mencintai sesuatu selain Zat
penciptanya. Cinta ini kreatif, oleh karena itu, ia menimbulkan dalam benda ada
sebelum timbul rasa cinta. Daya tarik tersebut tidak terdapat dalam dirinya
sebelum ia merasa cinta; inilah yang menampakkan alamat Tuhan dan inilah yang
menimbulkan rasa adanya malaikat
.”
Malaikat dalam
pemahaman ini adalah individualitas kita yang abadi, seperti yang lahir dalam
penjelmaan Ilahi yang menjelma kepada diri sendiri. Orang yang sedang cinta
mendapatkan wujudnya sendiri yang tersembunyi dalam diri yang dicintai; lebih
dari itu, penjelmaan ini mengubahnya sama sekali. Itulah kehadiran Tuhan dalam
diri manusia. “Ketika engkau melepas anak panah dari busurnya, bukan engkau
yang melepaskannya akan tetapi Tuhan.”
(QS. Al-Anfal [8]: 17).
Ibn Arabi
menjelaskan bahwa itulah Tuhan yang cinta ketika saya cinta. Itulah Tuhan yang
mengkhayalkan ketika aku mengkhayalkan. Itulah sebabnya maka imajinasi
merupakan sumber segala proyek, yang mungkin mustahil. Ibn Arabi kemudian
mengistilahkannya “menjadi Al-Qur’an,” maksudnya ialah menjadi tempat
manifestasi Tuhan, menjadi alamat (ayat) Tuhan. Tak ada bukti lain yang lebih
mantap, tentang Tuhan, tentang pencipta dan tindakannya, kecuali pengalaman
tentang kehadirannya dan tindakannya tentang ciptaannya dalam diri kita, yang
bukan tindakan kita dan bukan kita.
Angelus Silesius
(1624-1677), ahli mistik Kristen, berkata “Perlu Tuhan itu berada dalam
dirimu; untuk berada, Tuhan memerlukan hatimu.”
“Orang tidak
mengerti siapakah Tuhan itu
Ia bukanlah
aku, bukan engkau, bukannya makhluk
Kita semua
tidak dapat mengetahui kecuali dengan menjelma Ia.”
ANGELUS SILESIUS
Ibn Arabi ketika
berbicara tentang hal tersebut menyebutkan bahwa “Akan Aku perlihatkan
ayat-ayat-Ku di ufuk-ufuk cakrawala dan dalam diri mereka sendiri.”
(QS. Al-Fushshilat
[41]: 53).
Ayat ini menurut
Ibn Arabi menjadi soal terakhir dari filsafat kenabian: Apa arti “Tuhan telah
bersabda kepada Nabi Muhammad? Mengapa sabda itu telah mengubah wujudku? Di sini,
Arabi, menyebut Nabi Muhammad oleh karena ia menganggap Islam bukan sebagai
suatu agama, akan tetapi sebagai agama asli, agama Nabi Ibrahim yang bukan merupakan
orang Yahudi atau Nasrani, akan orang yang Hanif dan Muslim (Ibn Arabi, Hikmatul
Anbiya
).
#30DWCJilid17
#Fightersquad9
#Day5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post