“Hai manusia, jangan mengatakan bahwa ilmu yang kau katakan ilmu Ilahi itu salah; tetapi saya mengatakan bahwa saya mengetahui ilmu-ilmu manusia”IBNU RUSYD
Ernest Renan (1823-1892) mengatakan bahwa Ibnu Rusyd sebagai perintis orang-orang yang berpikir bebas. Kemudian argumentasi ini dijadikan sebagai titik tolak untuk mengatakan bahwa pemikiran tersebut sebagai puncak pemikiran filsafat Ibnu Rusyd sekaligus kematian filsafat Islam.
Padahal kalau mau ditelisik lebih jauh terkait pemikiran tersebut, sesungguhnya yang mati dengan Ibnu Rusyd adalah penyelidikan tentang dimensi transenden dan filsafat. Dengan wafatnya Ibnu Rusyd, maka sempurnalah perpisahan filsafat dengan kehidupan yang menyeluruh, yakni kehidupan jiwa yang diinginkan oleh kaum sufi. Filsafat Barat mengalami kematian karena meninggalkan dimensi profetik dan kehidupan.
Walaupun demikian, kematian Ibnu Rusyd pada tahun 1198 telah melahirkan tokoh yang lain, Ibn Arabi (1165-1241), yang memulai menangani filsafat kenabian di Andalusia, seperti yang dilakukan oleh Suhrawardi (1156-1191) di ujung dunia Islam yang lain, yakni di Persia.
Suhrawardi adalah lawan Aristoteles. Dalam karangannya Al Hikmah al Masyriqiah (Theosophie Orientalie) ia menulis: “Orang yang ingin memiliki pengetahuan filsafat yang lugu dan sederhana, maka ia harus mengikuti aliran-aliran pengikut Aristoteles. Bagi kami, kami tidak akan berdiskusi dan mengatakan sesuatu dengannya tentang ide-ide pokok dari Al hikmah al masyriqiah (Kebijaksanaan Timur).
Karya Suhrawardi tersebut merupakan bantahan-bantahan terhadap ide-ide Aristoteles dan pengikutnya. Suhrawardi tidak memisahkan ide-ide filsafat dengan pengalaman ahli-ahli tasauf. Yaitu pengalaman yang dihayati (dan bukan sekedar pengalaman yang dipikirkan) dari kehadiran dan kelahiran wujud.
Filsafat kenabian, atau Timur sebagai yang dikatakan Suhrawardi tidak memisahkan pengetahuan teoretis sebagai suatu bagian gerak otonom dari keseluruhan kehidupan. Semua pengetahuan yang benar adalah perubahan yang permanen dan suatu metamorfosa dalam diri manusia. Usaha Suhrawardi untuk mengambil filsafat kenabian dari filsafat Aristoteles dan filsafat Yunani, karena filsafat kenabian telah dikubur di bawahnya dan dicampur-adukkan dengan ajaran-ajarannya, dan bukan merupakan timbulnya Platonisme kembali, karena cara mengetahui atau jalan kepada percikan cahaya (illuminasi) bukannya pengetahuan tentang apa yang dapat diketahui (seperti yang dipahami oleh intelektualme Yunani, bahkan Plato) tetapi pengetahuan yang imajinatif.
Karena sebab yang sama pula, filsafat kenabian bukan kemunculan baru (dan bukan usaha sintesa) dari kebijaksanaan kuno Persia, karena Ibn Arabi (yang tidak pernah berniat untuk menghidupkan suatu filsafat yang tidak merupakan bagian dari warisan spiritualnya) telah mengembangkan filsafat imajinatif dan kreatif yang sama, dalam perspektif filsafat kenabian yang sama.
Filsafat kenabian mencapai puncaknya di tangan Ibn Arabi yang telah memberikan ekspresi yang paling tinggi tentang pandangan Islam terhadap alam. Tindakan adalah segi luarnya iman. Tindakan menunjukkan adanya dan memperlihatkan. Iman adalah segi dalam dari ilmu pengetahuan, dan tindakan memperkuat dan menggiatkannya. Dan lebih dalam lagi: Yang dimaksudkan, Arabi, adalah fungsi kenabian, selama fungsi itu memproklamasikan syariat.
Pandangan yang menyeluruh, intuisi yang hidup, tidak merupakan kontak dengan suatu realitas yang terasa dan terlihat, dan juga tidak merupakan refleks dari alam yang dapat dipahami (intelligible) dan dipikir; intuisi tersebut adalah tindakan dari imajinasi profetik tetapi tidak dengan lamunan; imajinasi subjektif akan tetapi dengan pengetahuan hati, yang membuka bagi kita alam yang lain daripada alam yang terasa (sensible) atau terpikir (intelligeble).
Imajinasi profetik dalam diri manusia ini, mempunyai sesuatu yang mirip dengannya di dalam alam. Ia hanya suatu fungsi untuk menerima realitas yang lebih dalam yaitu tindakan-tindakan kreatif dari Tuhan dalam ayat-ayat (bukti-bukti) yang Ia tunjukkan melalui peristiwa-peristiwa sejarah, perubahan-perubahan besar dan inspirasi-inspirasi dalam hati dan jiwa manusia, serta pertumbuhan-pertumbuhan dari alam atau dari seni.
Filsafat kenabian, atau Timur sebagai yang dikatakan Suhrawardi tidak memisahkan pengetahuan teoretis sebagai suatu bagian gerak otonom dari keseluruhan kehidupan. Semua pengetahuan yang benar adalah perubahan yang permanen dan suatu metamorfosa dalam diri manusia. Usaha Suhrawardi untuk mengambil filsafat kenabian dari filsafat Aristoteles dan filsafat Yunani, karena filsafat kenabian telah dikubur di bawahnya dan dicampur-adukkan dengan ajaran-ajarannya, dan bukan merupakan timbulnya Platonisme kembali, karena cara mengetahui atau jalan kepada percikan cahaya (illuminasi) bukannya pengetahuan tentang apa yang dapat diketahui (seperti yang dipahami oleh intelektualme Yunani, bahkan Plato) tetapi pengetahuan yang imajinatif.
Karena sebab yang sama pula, filsafat kenabian bukan kemunculan baru (dan bukan usaha sintesa) dari kebijaksanaan kuno Persia, karena Ibn Arabi (yang tidak pernah berniat untuk menghidupkan suatu filsafat yang tidak merupakan bagian dari warisan spiritualnya) telah mengembangkan filsafat imajinatif dan kreatif yang sama, dalam perspektif filsafat kenabian yang sama.
Filsafat kenabian mencapai puncaknya di tangan Ibn Arabi yang telah memberikan ekspresi yang paling tinggi tentang pandangan Islam terhadap alam. Tindakan adalah segi luarnya iman. Tindakan menunjukkan adanya dan memperlihatkan. Iman adalah segi dalam dari ilmu pengetahuan, dan tindakan memperkuat dan menggiatkannya. Dan lebih dalam lagi: Yang dimaksudkan, Arabi, adalah fungsi kenabian, selama fungsi itu memproklamasikan syariat.
Pandangan yang menyeluruh, intuisi yang hidup, tidak merupakan kontak dengan suatu realitas yang terasa dan terlihat, dan juga tidak merupakan refleks dari alam yang dapat dipahami (intelligible) dan dipikir; intuisi tersebut adalah tindakan dari imajinasi profetik tetapi tidak dengan lamunan; imajinasi subjektif akan tetapi dengan pengetahuan hati, yang membuka bagi kita alam yang lain daripada alam yang terasa (sensible) atau terpikir (intelligeble).
Imajinasi profetik dalam diri manusia ini, mempunyai sesuatu yang mirip dengannya di dalam alam. Ia hanya suatu fungsi untuk menerima realitas yang lebih dalam yaitu tindakan-tindakan kreatif dari Tuhan dalam ayat-ayat (bukti-bukti) yang Ia tunjukkan melalui peristiwa-peristiwa sejarah, perubahan-perubahan besar dan inspirasi-inspirasi dalam hati dan jiwa manusia, serta pertumbuhan-pertumbuhan dari alam atau dari seni.
#30DWCJilid17
#Squad9
#Day4