FILSAFAT KENABIAN II

Persentuhan Islam
dengan filsafat diawali dengan masuknya Jenderal Arab ‘Amr bin ‘Ash ke kota
Iskandaria dengan pasukannya tahun 641 M. Kota Iskandaria merupakan pusat
peradaban kuno di mana kebudayaan Mesir, Mesopotamia, Iran, India dan Yunani saling
bertemu dan saling mengambil faidah. Pada masa Iskandaria dalam kekuasaan Islam
merupakan masa penerjemahan besar-besaran filsafat di Baghdad yang yang
dimotori Khalifah Abbasiah, Al Manshur, Harun al-Rasyid dan al-Makmun.  
Filsafat Islam “kenabian”
bertitik tolak pada bagaimana menjelaskan hubungan manusia dengan Tuhan. Selain
itu Al-Kindi (796-873) memasukkan filsafat Yunani dalam rangka pandangan Islam terhadap
alam. Ia telah membaca terjemahan Arab dari metafisik karangan Aristoteles
dan bahan-bahan yang datang dari luar Islam. Namun ia tidak menemukan jawaban
atas pertanyaan-pertanyaan pokok yang bersifat Islam secara khusus dan yang
diajukan oleh kenabian yang merupakan orisinalitas filsafat Islam.
Bahan-bahan dari
luar Islam seperti hubungan antara yang riil dan yang tidak riil yang dalam
filsafat Yunani telah dialihkan menjadi hubungan antara yang dirasakan (sensible)
dan yang dipahami (intellegible) atau hubungan antara kata manusia dengan
sabda Tuhan, dan juga problem-problem tindakan yang dianjurkan Tuhan; problem-problem
seperti tersebut di atas tak pernah dikemukan dalam filsafat Yunani. Dan juga,
filsafat Yunani tidak pernah mengajukan problem tentang kenabian serta kehadirannya
secara aktif dalam manusia.
Mula-mula
Al-Kindi membicarakan soal asal usul alam penciptaan oleh Tuhan soal-soal
tersebut tidak pernah terpikir oleh filsuf Yunani yang kandas dalam pemikiran tentang
essensi dan tentang wujud yang harus ada. Al-Kindi mengerti bahwa menurut Al-Qur’an,
Tuhan itu bukan wujud akan tetapi Zat yang menciptakan wujud. Oleh karena itu
Al-Kindi menolak teori emanasi menurut aliran Neoplatonisme, sebagaimana ia
menolak metafisik Aristoteles yang mengatakan bahwa penciptaan hanya berarti memberi
bentuk kepada bahan yang sudah ada sebelumnya. Al-Kindi tidak dapat mengikuti
konsepsi kemanusiaan tentang hubungan antara manusia dengan Tuhan yang sering
dibicarakan oleh Socrates, Plato, Aristoteles dan Plotinus, tanpa melepaskan
hubungan transendensi Islam yang ketat.

Al-Kindi dalam melihat dua aliran filsafat ini memilih
untuk mengatakan bahwa dua filsafat itu bersama, yang satu di samping yang
lain. Hal ini terjadi karena filsafat Yunani tidak dapat masuk dalam kebudayaan
Islam. Walaupun Ia mengikuti logika Aristoteles tetapi ia tetap mempertahankan
konsepsi Al-Qur’an tentang penciptaan.



#30DWCJilid17
#Squad9
#Day3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post