FILSAFAT KENABIAN

“Bagaimana
pengetahuan itu dimungkinkan? Vs Bagaimana kenabian (wahyu) itu mungkin?”

Kita akan memilih
yang mana? Filsafat kritik atau filsafat profetik?
Filsafat Yunani
telah kehilangan artinya yang tinggi yaitu sebagai hubungan antara manusia
dengan seluruh alam dan dengan ketuhanan, hal ini terjadi semenjak
berpengaruhnya kaum sophits dan Socrates. Filsafat sebagai hubungan antara
manusia dengan seluruh alam dan ketuhanan telah memberi inspirasi kepada
Heraclitus (576-480 SM) atau Empidocles ( abad V SM) untuk bicara dengan bahasa
Oracle (kata-kata Dewa diucapkan orang yang merasa dijelmai) dan puisi.
Romain Rolland (1866-1944)
menulis tentang Empidocles bahwa “pikiran-pikirannya mempunyai akar dalam impian
Asia, dan berkumandang sampai India.” Sementara Holderin mengatakan bahwa ia (Empicoles)
mengenal apa yang ada di alam ilahi dan mengetahui bahwa dewa-dewa lahir dari
sabda-Nya terdahulu.
Adapun Heraclitus
telah menulis bahwa “Hajat (kebutuhan) adalah pembentukan (formasi) alam dan
kepuasan itu adalah kekalutannya. Engkau tidak dapat mengetahui batas-batas
jiwa, dengan jalan apa pun yang akan kau tempuh. Orang-orang yang berjaga
mempunyai satu alam yang umum bagi mereka; mereka yang tidur, masing-masing
jatuh dalam suatu alam yang khusus. Guru yang sabdanya terjadi di Delphes tidak
mengatakan rahasia, yang dikatakan itu ada artinya.”
Santo John Perse
menceritakan bahwa orang yang dinamakannya penguasa bintang dan pelayaran
berkata: “Mereka itu menemani saya yang tidak terang (obscure), dan
maksud saya adalah laut.” Sedangkan menurut Paul Valery bahwa syair mendekatkan
kami kepada kejadian dan perubahan lebih banyak daripada sekedar mengundang
untuk memahami.
Perkataan-perkataan
tersebut merupakan pandangan-pandangan filsuf Barat. Dimulai Socrates sampai
Rene Descartes, dan dari John Locke sampai Emmanuel Kant, filsafat Barat
berusaha memahami bagaimana orang dapat memahami sesuatu. Terlebih khusus
tentang kata exist (berada).
Konsep tentang “berada”
ini merupakan kesimpulan dari kesalahan-kesalahan filsafat Barat. Bagaimana Barat
mengasingkan diri, memisahkan sesuatu bagian dari kemanusian dari bagian-bagian
yang lain. Pendekatan yang digunakan adalah pemikiran yang bersifat speculation
tentang wujud, baik tentang wujud yang dapat dipahami, yang oleh Socrates
dikatakan sebagai dasar dari segala yang riil. Atau dikatakan Plato bahwa alam
yang kita rasakan ini hanyalah bayangan yang terdapat dari dunia gua, atau apa
yang dapat dirasakan oleh panca indera.
Selain Barat
berbicara tentang “berada” ini, Ia juga menciptakan kata-kata “subjek” yang
berhadapan dengan wujud; dua kata tersebut sama, remeh dan sepele. Aku memikirkan,
oleh karena itu aku ada (cogito ergo sum); dengan begitu Ia menegaskan
bahwa ia hanya suatu benda yang memikir.
Walaupun demikian,
pemikiran Emmanuel Kant tentang “imajinasi transendental” yang mengambil bagian
bukan dalam mengungkapkan realitas, akan tetapi dalam menciptakannya, ia tidak
berani mengakui bahwa “imajinasi transendental” tersebut sebagai pelaku satu-satunya
dalam sejarah manusia; yang mengandung unsur ilahi dan manusiawi. Kant dalam
hal ini sangat dekat dengan pemikiran Ibn Arabi dalam pendapatnya tentang peran
“imajinasi kreatif” yang menyeluruh, dan yang merupakan ekspresi kreasi
kenabian dalam manusia.
Datangnya Islam yang
kemudian diikuti dengan perkembangan pemikiran filsafat Islam telah memberi
ruang baru dalam kajian filsafat. Apa yang gagal dilakukan dengan filsafat
Barat tentang melihat Tuhan, alam dan manusia. Al-Qur’an telah membawa tiga
persoalan yang sama sekali baru. Pertama, problem dari pandangan tentang
yang riil. Apakah sesungguhnya yang riil itu? Yang oleh para filsuf Barat
memberi jawaban bahwa “riil sama dengan yang dipikirkan (ide-ide Plato)” dan “riil
adalah yang dapat dirasakan (seperti atomnya Democritos).”
Wahyu Al-Qur’an memberikan
posisi yang sangat baru dalam hubungan antara yang riil dan yang tidak riil,
antara yang SATU dan yang banyak, antara Tuhan dan manusia. Ibn Arabi
menunjukkan persoalan pokok dari wahyu dengan mengutip kata-kata tiga orang Khulafaur
Rasyidin.
Abu Bakar
berkata: “Aku tidak pernah melihat sesuatu benda tanpa melihat Tuhan sebelumnya.”
Umar berkata: “Aku
tidak pernah melihat sesuatu benda tanpa melihat Tuhan bersama dengan
benda itu.”
Utsman berkata: “Aku
tidak pernah melihat sesuatu benda tanpa melihat Tuhan sesudah itu.”
Dari ketiga
pengalaman tersebut dapat disimpulkan bahwa tiap benda tak dapat dilihat
sepenuhnya kecuali dalam Tuhan dan Tuhan tak dapat dilihat sepenuhnya kecuali
dalam benda. Kesatuan (unity) yang pokok ini  (tauhid) yang tidak merupakan fakta akan
tetapi merupakan “tindakan,” dan juga tidak merupakan “wujud” atau pikiran akan
tetapi merupakan “tindakan” merupakan saat pertama dari syahadat (tak ada Tuhan
melainkan Allah) dan menampakkan problem yang pokok dalam filsafat Islam.
Kedua, kemudian timbul problem kedua tetapi tak dapat
dipisahkan dengan yang pertama, yaitu: hukum seperti apa yang lahir dari
pandangan di atas. Tindakan dan hukum bagi seorang muslim adalah manifestasi
luar dari agama. Agama atau iman adalah di dalam, dan hukum berada di luar. Tak
terdapat pemisahan antara yang satu dengan yang lain.
Dengan iman,
manusia dapat menemukan kembali secara bebas, gerak ke arah Tuhan; gerak ini,
dari gerak batu sampai gerak tumbuh-tumbuhan, dari gerak tumbuh-tumbuhan sampai
gerak binatang, adalah suatu kecenderungan alamiah semacam “doa ontologis.”
Ketiga, Ibnu Hazm (994-1063) dari Kordoba ketika
membicarakan bukti-bukti tentang adanya Tuhan mengatakan: “orang tak dapat membuktikan
adanya Tuhan dengan akal, oleh karena terdapat suatu cara berpikir yang belum diciptakan
manusia untuk mengantar kepada iman kepada Tuhan. Di sinilah letaknya kunci
segala pemikiran tentang Tuhan; suatu meditasi tentang adanya sesuatu dalam
manusia yang manusia tak dapat menciptakan dirinya sendiri.

Dalam Al-Qur’an, Tuhan tidak menunjukkan diri-Nya,
akan tetapi hanya menunjukkan sabda-Nya dan hukum-Nya. Salah satu problem yang
sangat pelik dalam filsafat Islam adalah hubungan Zat yang mutlak dan abadi
dengan hal-hal yang relatif.

#30DWCJilid17
#Squad9
#Day2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post