KELEMBUTAN HATI SEORANG UMAR

Jika engkau kehilangan roh

dalam jalan cinta,


Datanglah padaku secepatnya;

Akulah benteng tak terkalahkan

(JALALUDDIN RUMI)

Suatu hari Khalifah Umar bin Khattab melihat seorang Yahudi di Madinah yang sedang memintaminta. Tatkala Umar bertanya mengenai sebab orang tersebut melakukan hal tersebut, maka ia menjawab: “Untuk membayar jizyah (pajak perlindungan diri non muslim).” Umar bin Khattab kemudian berkata, “Demi Allah, kalau begitu kami tidak mengasihimu. Kami mengambil jizyah dari kalian saat kalian masih muda dan sudah tua.”
Umar yang dikenal tegas dalam kepemimpinannya, pernah berkata: “siapa saja yang melanggar hukum, tentu mendapatkan hukuman, sekali pun itu anak kandung sendiri.” Tetapi dibalik sikap tegas tersebut, Umar adalah sosok yang begitu lembut hatinya. Hal tersebut tergambar jelas dalam pidato pertamanya setelah diangkat menjadi khalifah.
“…demi Allah, sungguh jika salah seorang dari orang yang berbuat zalim melampau batas terhadap orang-orang yang berbuat keadilan dan orang-orang beragama, niscaya aku akan meletakkan pipinya di tanah kemudian kuletakkan kakiku di atas pipinya hingga aku mengambil hak darinya. Setelah itu, akan kuletakkan pipiku di tanah kepada orang-orang yang menjaga kehormatan dan agama hingga mereka meletakkan kaki mereka di atas pipiku sebagai wujud kasih sayang dan kelembutan terhadap mereka.
Sesungguhnya, kalian memiliki beberapa urusan yang kuberikan syarat terhadap kalian. Pertama, selamanya aku tidak mengambil harta kalian. Tidak untuk diriku atau keluargaku. Kedua, aku akan mengembangkan harta dan menambah rezeki untuk kalian. Ketiga, aku tidak berlebihan dalam mengirim kalian (berperang). Jika aku mengirim kalian, maka akulah yang akan menjadi penanggung keluarganya. Kalian juga memiliki empat perkara yang harus kalian lakukan kepadaku. Yaitu, jika kalian tidak memerintahkanku untuk kebagaikan dan mencegahku dari kemungkaran serta menasehatiku, maka akan kuadukan kalian kepada Allah Azza wa Jalla pada hari kiamat kelak (Amru Khalid, 2007, Jejak Para Khalifah: Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali).”
Membaca Umar yang dididik secara tegas dan keras oleh ayahnya tidak membuat Ia menjadi sosok yang kasar. Walaupun Beliau kadang mendapatkan pukulan atau cacian dari ayahnya. Justru didikan yang keras itulah yang membentuk dirinya menjadi sosok yang tegas. Terlebih lagi Umar adalah sosok orang yang terdidik. Di usia belia, Umar sudah belajar dan menguasai geniologi (kemampuan menghapal silsilah); selain itu, kecintaan Beliau akan syair-syair pemuka kaum Quraisy menjadikan ia sosok yang lembut tetapi tegas.
Umar adalah sosok yang sangat paham menempatkan pembicaraan, di saat mana ia harus tegas dan di saat mana ia harus bersikap lemah lembut. Hal ini dapat dilihat ketika Umar berkata: “Setelah menjadi khalifah, Umar bin Khattab menjadi manusia lain. Beliau mengumumkan tentang dirinya dengan ucapannya: “Janganlah kamu mengira sifat kerasku tetap bercokol. Sejak awal ketika aku bersama Rasulullah SAW, aku selalu menjadi keamanan dan ketentraman negeri. Tetapi kini setelah urusan diserahkan  kepadaku, akulah yang paling lemah di hadapan yang haq.”

#30DWCjilid17
#Fightersquad9
#Day10

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post