SIKAP SEORANG SUFI

Memang susah menjelaskan sufi dan tasawuf, apabila orang tidak menjalankannya dengan bergabung dalam tarekat yang dipimpin oleh seorang Syaikh. Sebagai orang awam, tentu terlebih-lebih saya tidak punya bakat untuk memahami sufi dan ajarannya.ROSIHAN ANWAR, “Petite histore” Indonesia, Volume 2 (Kompas, 2009)

Imam Syafi’i berkata, “Seorang sufi tidak menjadi sufi jika ada pada dirinya empat perkara: malas, suka makan, suka tidur, dan berlebih-lebihan.” Abul Hasan as-Sirwani, dalam buku Tasawuf dan Ihsan (Serambi, 2007), berkata: “Seorang sufi adalah yang memperdulikan keadaan spiritualnya dan sekaligus amal-amal lahiriahnya.”

Maka menjalani hidup sebagai seorang sufi tidaklah mudah. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa menuju kepada-Nya mestilah melewati berbagai stasiun yang harus dilewati yakni: al-taubah, al-shabr, al-faqr, al-tawakkal, al-mahabbah, al-ma’rifah, dan ridho.

Stasiun-stasiun yang disebutkan Al-Ghazali tersebut sering pula disebut sebagai maqam, tingkatan, yang bersifat permanen. Tingkatan tersebut merupakan hasil usaha seorang salik (pencari Tuhan) melalui proses suluk dalam tarekat tertentu.

Selain usaha seorang salik dalam menempuh jalan kepada-Nya. Maka ada satu istilah yang sering dilekatkan kepada karunia Allah SWT yang diberikan kepada hamba-Nya, yaitu hal atau ahwal.

Menurut Abu Nashir Al-Thusi bahwa hal itu terdiri dari: al-muraaqabah (perasaan selalu diawasi oleh Allah), al-qurb (perasaan kedekatan kepada Tuhan), al-khauf wa al-raja’ (perasaan harap-harap cemas terhadap Allah), al-syauq (perasaan bersahabat dengan Allah), al-thuma’ninah (perasaan tenteram), al-musyahadah (perasaan menyaksikan Tuhan–dengan mata hati), dan al-yaqin (perasaan yakin kepada-Nya).

Karunia tersebut bersifat temporer, maksudnya terkadang dirasakan atau terhujam langsung ke lubuk hati terdalam seorang salik apabila merasakan kehadiran Tuhan dalam dirinya.

Maqam merupakan kedudukan seorang pejalan spiritual melalui kerja keras dalam beribadah. Bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu (mujahadah), dan latihan-latihan rohani (riyadhah), sehingga ia mencapai keluhuran budi pekerti (adab) yang memampukannya untuk memiliki persyaratan-persyaratan dan melakukan upaya-upaya untuk mejalankan berbagai kewajiban dengan sebaik-baiknya.

Sementara hal tersebut merupakan suasana atau keadaan yang menyelimuti kalbu, yang diciptakan (sebagai “hak prerogatif”)Allah dalam hati manusia. Ketika Ia datang, sang sufi tidak akan mampu menolak keadaan tersebut dan tidak juga mampu mempertahankannya apabila Ia pergi.

Kedua konsep tersebut merupakan bagian dari pemahaman tasawuf sebagai perjalanan spiritual (suluk). Sikap-sikap tersebut kemudian haruslah melekat pada diri seorang sufi (salik) sehingga dia mampu berkekalan dengan Tuhan.

Pemahaman tersebutlah yang mampu mengantarkan seorang salik mendapatkan keridhoaan maupun cinta-Nya secara sistematis.

#30DWCjilid17
#Fightersquad9
#Day25

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post