Jika hakikat sesuatu telah tersingkap, maka Nabi–yang diberkati ketajaman mata hati, yang disinari dan menyinari–tidak akan pernah mengajukan permohonan ini, “Ya Tuhan, tunjukkan pada kami segala sesuatu sebagaimana hakikatnya yang tersembunyi.”
Manusia sepatutnya mengingat, apa pun yang dikerjakan, sesibuk apa pun aktivitas, kita harus sentiasa ingat bahwa kita akan kembali kepada Allah. Kita harus berhati-hati untuk menjaga setiap langkah dan tindak tutur kita agar selalu dalam ridho Allah.
“Agama adalah mengenal Allah (ma’rifatullah). Mengenal Allah adalah berlaku dengan akhlak (yang baik). Akhlak (yang baik) adalah menghubungkan tali kasih sayang (silaturahim). Dan silaturahim adalah memasukkan rasa bahagia di hati saudara (sesama) kita.”
Berjalan menuju Allah itu harus dimulai dengan berakhlak baik. Karena hanya dengan begitu, kita mampu menyambungkan tali kasih sayang dengan sesama manusia. Buah dari silaturahim itu haruslah mampu memberi dampak kebahagiaan kepada sesama.
Karena bahagia itu hanya dapat dirasakan dengan hati kita. Bahagia itu bersifat instrinsik (spiritual) ada di dalam hati. Bukan ekstrinsik (tubuh) dan tergantung pada pancaroba kejadian dalam kehidupan sehari-hari kita di luarnya.
Bagi siapa saja yang telah meraih kebahagiaan sejati. Apa pun yang terjadi dalam kehidupan luaran (tubuh) kita, tidak akan berpengaruh apa-apa karena rasa bahagia itu akan tetap lestari.
Sayyidina Ali karamallaha wajhah pernah menyatakan, “Seseorang tidak akan merasakan manisnya kebahagiaan, sebelum dia merasakan pahitnya kesedihan.” Maksudnya adalah pahitnya kesedihan itu hanya sementara, sementara kebahagiaan itu adalah lestari.
Jadi dalam setiap ujian hidup, manusia haruslah senantiasa bersabar dan berserah diri hanya kepada-Nya, karena sesungguhnya kebahagiaan itu jauh lebih besar faedahnya bagi kehidupan manusia yang bersabar dan berserah diri.
#30DWCJilid17
#Fightersquad9
#Day13