“Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena berharap surgamu, maka jauhkanlah surga itu dariku. Jika aku menyembah-Mu karena takut neraka-Mu, masukkan aku ke dalamnya. Tapi, jangan halangi aku dari melihat wajah-Mu.”RABI’AH AL-’ADAWIYYAH
Diriwayatkan, Rabi’ah al-’Adawiyyah pernah ditemui orang berjalan di jalanan Kota Bagdad sambil membawa obor di salah satu tangannya, dan seember air di tangannya yang lain. Ketika ditanya orang tentang tujuannya, di menjawab: “Aku akan membakar surga dengan obor ini, dan memadamkan api neraka dengan seember air ini.”
Tasawuf mempromosikan jenis hubungan penuh cinta kasih antara Tuhan dan manusia, antara Khaliq dan makhluk, antara Ma’bud dan ‘aabid, dan seterusnya. Yakni ketika segenap kedirian kita, nafsu-nafsu duniawi kita, telah sirna oleh mujaahadah jika kita yang telah tersucikan di dalam Allah.
Hubungan tersebut di atas adalah puncak dari seluruh perjalanan spiritual (suluuk) manusia (kembali kepada Allah). Inilah sesungguhnya ideal tasawuf. “Segala puji bagi Allah yang mencintaiku, padahal Dia Maha Kaya dan tidak membutuhkan apa pun dariku.”
Muhammad Iqbal, pujangga Muslim dari Anak Benua India, menyebutkan bahwa satu kisah yang disandarkan kepada Nabi SAW, “Suatu pagi, setelah salat jamaah subuh, penglihatan Rasulullah tertuju pada seorang anak muda–Haritsah ibn Malik ibn Nu’man al-Anshari, kurus dan pucat, kedua matanya sembab, dia tampak linglung dan tak dapat berdiri tegak.
Terjadi dialog antara Nabi dan Haritsah, “Bagaimana keadaanmu?” Tanya Rasulullah, “Saya telah sampai pada keimanan tertentu,” jawab Haritsah. “Apakah tanda-tanda keimananmu?” Rasul bertanya lagi. “Keimananku telah menenggelamkanku ke dalam kesedihan,” jawab Haritsah. Hal tersebut membuatnya tidak bisa tidur di malam hari (untuk beribadah) dan dahaga di siang hari (dalam berpuasa).
Dialog berlanjut, “Keadaan itu juga telah sepenuhnya menceraikanku dari dunia ini dengan segala urusannya, sehingga seolah-olah aku dapat melihat ‘ARasy Allah telah ditegakkan untuk perhitungan atas (amal-amal) umat manusia, dan bahwa saya bersama seluruh manusia telah dibangkitkan dari kematian.”
“Aku merasa dapat melihat para ahli surga menikmati karunia-karunia Allah, dan para ahli neraka menderita siksaan-siksaannya dan saya mendengar gemuruh jilatan apinya.” kata Haritsah.
Mendengar itu, Nabi SAW menoleh kepada sahabatnya seraya berkata, “Ini adalah seseorang yang hatinya telah disinari dengan cahaya keimanan oleh Allah.” Lalu Nabi melanjutkan, “Pertahankanlah keadaan ini, dan jangan biarkan ia lepas darimu.”
Dialog tersebut yang bersumber dari hadis Nabi menjadi ilustrasi bagi pemahaman makna ihsaan yang dianggap sebagai dasar penghayatan kesufian, dan bersama iman dan Islam, membangun trilogi kelengkapan prinsip-prinsip agama Islam.
Ihsaan adalah “suatu situasi yang di dalamnya seseorang beribadah dalam keadaan seolah-olah ia melihat Allah, atau kalau pun tak dapat melihat-Nya, ia yakin bahwa Allah melihatnya.”
Itulah sekelumit kisah-kisah manusia yang didekatkan hatinya kepada kekasih-Nya, Allah SWT.
#30DWCjilid17
#Fightersquad9
#Day19