![]() |
Ket Foto: Pimpinan Pondok, Drs. K.H. Abd Mutthalib Abdullah, MA |
Baru saja keluarga
Besar Pondok Pesantren MDIA (Ma’hadud Diraasatil Islamiyyah wal Arabiyyah) Bontoala selesai melaksanakan
doa dan zikir bersama. Acara ini dalam rangka memperingati 1 Muharram, tahun
baru Islam. Kegiatan rutin tahunan ini diadakan sebagai bentuk kepedulian
terhadap masyarakat di sekitar Pondok. Kegiatan malam ini diikuti ratusan orang tua santri dan masyarakat sekitar. Menghitung jumlah yang hadir
tentulah sangat kecil, kalau membayangkan Pesantren-pesantren besar di pulau
Jawa. Tetapi jumlah tersebut termasuk besar bagi kami keluarga besar Pondok,
mengingat keberadaan pondok berada di pusat kota Makassar, Sulawesi Selatan dan
berada di pemukiman padat penduduk.
kami, warga pondok, kegiatan seperti ini merekatkan kami sebagai bagian dari
masyarakat Bontoala Tua. Masyarakat multi etnik—Makassar, Bugis, Toraja,
Banjar, Jawa, dan beberapa suku dari Timur Indonesia, serta etnis China yang
lahir dan menetap sebagai warga Bontoala. Yah, kami dan masyarakat Bontoala Tua
adalah keluarga, yang dipersatukan sebagai warga negara. Walaupun kami berbeda
suku, keyakinan tetapi kami sebangsa setanah air.
Ibnu Khaldun (2000: 141) dalam Muqaddimah bahwa bermasyarakat itu tidak lain
hanyalah untuk saling membantu di dalam memperoleh penghidupan, dan untuk
memenuhi kebutuhan hidup mereka. Harapan kami sebagai lembaga pendidikan,
sebagai bagian dari masyarakat Bontoala, menyiapkan generasi muda dengan
pendidikan, khususnya pendidikan agama. Agar mereka mendapatkan kesempatan yang
sama di dalam mencari penghidupan yang layak.
Muhammad Umer Chapra (1993) dalam Islam and Economic Development bahwa keadilan
ekonomi hanya bisa dicapai apabila dalam sistem ekonomi tersebut menerapkan moral values sebagai
bagian dari praktik ekonomi. Nilai moral ini hanya mampu digapai apabila
masyarakat ekonominya taat akan ajaran/kepercayaan agamanya. Maka tepatlah apa
yang kami lakukan, menyiapkan umat dalam menghadapi kehidupan.
bersabda: “Setiap bayi dilahirkan menurut fitrah. Maka ibu bapaknyalah
yang menjadikannya sebagai seorang Yahudi, atau Nasrani, atau Manusia.” Maka
dengan memberi bekal agama dan pendidikan yang baik, akan membantu mereka
menjadi pribadi yang baik. Ibnu Khaldun (2000: 145) menjelaskan bahwa apabila
kebiasaan berbuat kebajikan masuk pertama kali ke dalam jiwa seseorang dan
menjadi kebiasaan, maka baiklah dia. Demikian pula sebaliknya, apabila
kebiasaan buruk yang masuk dan menjadi kebiasaan, maka buruklah dia.
hidup, dua hal penting yang akan menjamin seseorang mencapai falah (kesejahteraan)
hidup dunia dan keselamatan di akhirat kelak adalah kemapanan ekonomi dan
kemantapan hati di dalam agamanya. Agama yang baik dan perekonomian yang baik
dapat diperoleh dari pendidikan yang baik. Sebagai bagian dari keluarga besar
Pondok pesantren MDIA Bontoala, maka tentu kami berkewajiban membantu sesama sebangsa
setanah air dengan apa yang kami miliki. Selamat tahun baru Islam, 1 Muharram
1439 H
