BERCERMINLAH

“Kapan cahaya Yang Maha Kuasa berada dalam hati? Jika kau mencari cahaya-Nya, akan kau temukan di sana. Tapi, bukan berarti bahwa cahaya-Nya menang benar-benar di hati. Jika kau menemukan di dalamnya, seakan kau menemukan lukisan diri dalam sebuah cermin, sekalipun sesungguhnya tidak berada dalam cermin itu. Namun ketika kau amati, akan kau temukan dirimu sendiri.”JALALUDDIN RUMI

Rumi merupakan salah satu figur yang selalu dikaitkan dengan tradisi sufism. Dia dikenal dengan ribuan syairnya tentang kekasih-Nya. Salah satunya adalah syair di atas. Rumi senantiasa menuliskan rasa rindunya kepada sang Kekasih dengan bahasa cinta dari seorang perindu.

Louis Massignon mengatakan,”…saya harus mengakui…bahwa Al-Qur’an mengandung benih-benih nyata mistisisme (tasawuf) yang mampu untuk berkembang sendiri secara otonom tanpa perlu dibantu oleh pengaruh-pengaruh asing….”
Kutipan tersebut merupakan kutipan dari seorang orientalis yang kemudian mengabdikan seluruh hidupnya untuk studi tasawuf. Hal ini penting untuk mengungkapkan tujuan yang hendak dicapai, yaitu bahwa tasawuf bukanlah merupakan pinjaman dari tradisi agama kristen.
Hal senada juga dikemukakan oleh Nicholson bahwa, “Kendati Muhammad SAW tidak mengajarkan sistem dogma atau pun (semacam) teologi mistis, Al-Qur’an jelas-jelas mengandung bahan bagi keduanya…” Allah SWT berfirman: Allah cahaya langit dan bumi (QS al-Nur [24]: 35); Dialah zat Yang Maha Awal dan Maha Akhir (QS. Al-Hadid [57]: 3).
Ke mana pun kamu berpaling di situlah wajah Allah (QS. Al-Baqarah [2]: 115). Barangsiapa yang tidak diberi petunjuk oleh Allah SWT, maka ia tidak beroleh cahaya barang sedikit pun (QS. Al-Nur [24]: 40).
Jelaslah bahwa benih-benih tasawuf tersemai di sini. Bagi kaum sufi awal, Al-Qur’an bukanlah  sekedar kalam Allah, melainkan juga sarana mendekatkan diri kepada-Nya. Dengan merenungkan ayat-ayat Al-Qur’an pada umumnya dan ayat-ayat misterius tentang Mi’raj Nabi SAW
Ajaran tentang kesatuan spiritual yang bisa dicapai dengan perjalan spiritual tidak ada dalam ayat  apa pun dalam Al-Qur’an. Tetapi secara jelas diungkapkan dalam sebuah hadis qudsi–walaupun bagi sekelompok orang yang tidak menerima tasawuf–meragukan kesahihannya.
“Seorang hamba terus-menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan melakukan ibadah naawafil hingga ketika Aku mencintainya, Aku menjadi pendengaran yang dengannya ia mendengar, penglihatan yang dengan itu ia melihat, lidah yang dengannya ia berbicara, dan tangan yang dengannya ia memegang.”
Sesungguhnya tulisan ini ingin menyadarkan diri kita, bahwa kadangkala kita lupa bercermin untuk melihat wajah kita. Bercermin menurut Rumi merupakan cara efektif memahami seluruh perbuatan kita.
Wajah yang penuh kerinduan akan kekasih-Nya. Sesungguhnya ini adalah peringatan, maka ada jalan kepada Rabb bagi siapa yang mau (QS. Al-Muzzammil [73]: 19). Dan barang siapa yang berjihad (bersungguh-sungguh dalam mencari Kami, maka pasti akan Kami tunjuki jalan-jalan Kami.” (QS. Al-Ankabut [29]: 69).
#30DWCjilid17
#Fightersquad9
#Day17
#wajah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post