“Dia berada di mana saja dan dalam setiap gerakan, tapi bukan ini dan bukan pula itu; Dia mengejawantah dalam setiap ruang. Namun sebenarnya Dia tanpa-ruang.”
Perbedaan adalah suatu keniscayaan. Kadangkala dalam suatu keluarga, kelompok, masyarakat dan negara sekalipun sering terjadi perbedaan-perbedaan berkaitan dengan suatu pandangan. Beragama pun demikian adanya, banyak pendapat, amalan yang saling dipertentangkan walaupun pada dasarnya dari sumber yang sama, Allah SWT.
Perbedaan pendapat dalam beribadah misalnya, seringkali bermuara pada perdebatan sengit yang pada akhirnya saling sesatkan di antara saudara sekeyakinan. Dan tidak sedikit yang meradang terluka atas sikap dan perlakuan saudaranya.
Lihat saja hari ini, di negeri yang dikenal sangat ramah ini, begitu mudahnya antara saudara muslim saling sesat menyesatkan hanya karena pilihan politik. Satu pihak menganggap bahwa calonnya adalah hasil ijtima ulama dan harus dibela dan diperjuangkan. Di pihak lain menganggap bahwa calon mereka lah yang lebih baik dengan segudang prestasi dalam mengelola negara.
Bahkan kadangkala, dalam satu keluarga, antara ayah dan anak berdebat sengit karena berbeda pilihan. Tentu saja kejadian-kejadian ini sangat menyita perhatian bahkan waktu kita untuk menjawab persoalan tersebut.
Sebagai bangsa yang beragama, sepantasnya hujatan, caci maki antara sesama anak bangsa tidaklah terjadi. Agama mengajarkan kita untuk saling mencintai, saling tolong menolong dalam kebaikan. Tentu saja harapannya bahwa antara sesama anak bangsa dapat hidup berdampingan dengan rasa aman dan nyaman.
Belajarlah agama dan beragamalah dengan hati. Karena sesungguhnya hakikat manusia yang terdalam adalah hati. Dan hati selalu berada di sisi Tuhan. Kebanyakan manusia tertutupi oleh segala macam kabut dan kegelapan, sehingga roh binatang atau nafs-lah yang menempati pusat kesadaran (hati) mereka.
“Kembalilah pada kesejatianmu, oh hati! Karena jauh di kedalamanmu akan kau temukan jalan menuju Yang Tercinta.”
#30DWCjilid17
#Fightersquad9
#Day15
#luka