MEMAHAMI TASAWUF

Jika kau tuangkan lautan ke dalam sebuah bejana, seberapakah ia akan mampu menampunya?Jendela mampu menerima sebanyak cahaya yang masuk ke dalam rumah, padahal bulan memancarkan cahaya memenuhi seluruh ufuk timur dan barat.
Rumi
Ajaran-ajaran Sufi dapat dibagi ke dalam tiga kategori. Yang pertama dari dua kategori merujuk pada apa yang disebut sebagai “kearifan” dan “jalan,” atau dalam term Islam yang umum, “ilmu” dan “amal,” “teori” dan “praktik.” Menurut Nabi, “Ilmu tanpa amal bagaikan pohon tak berbuah.”
Ilmu yang dimaksudkan oleh Nabi senantiasa merujuk pada sabdanya yang lain, “Menuntut ilmu wajib bagi setiap Muslim,” “Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina.” Ilmu adalah cahaya yang dengannya Tuhan turun ke dalam hati setiap hamba-Nya yang Dia kehendaki.” Ilmu tersebut tidak lain adalah ilmu tentang Tuhan sendiri, yang menjadi tujuan utama dari hidup manusia.
Bagi umat Islam, yakni ilmu yang disampaikan oleh Al-Qur’an. Sedangkan yang dimaksud dengan “amal,” adalah mengamalkan ilmu tersebut dalam kehidupan sehari-hari kita, sebagai wujud mengamalkan ajaran Islam.
Dalam konteks Sufi, ilmu dan amal ditekankan pada unsur ketiga, yang tidak dijelaskan secara spesifik dalam Al-Qur’an maupun hadis, yaitu kesadaran spiritual. Kesadaran spiritual merupakan tahapan pendakian menuju kesempurnaan diri yang menghasilkan kedekatan dengan Tuhan.
Kaum Sufi dalam hal ini mengutip sabda Nabi: “Syariat adalah kata-kataku, Thariqah adalah amalanku, Hakikat adalah maqamku.” Dalam hal ini, kaum Sufi memahami syariat (hukum) dalam pengertian yang lebih luas, mencakup “ilmu” dalam seluruh ajaran Islam. Thariqah adalah jalan yang ditempuh dalam mengamalkan syariat. Dan Hakikat adalah keadaan batin serta maqam (kedudukan) yang dicapai dalam perjalanan menuju Tuhan.
Dengan demikian, terdapat tiga dimensi ajaran Sufi: Syariat, Thariqah dan Hakikat (kebenaran); atau ilmu, amal dan mencapai Tuhan; atau teori, praktik dan kesadaran spiritual.
Menapaki jalan Sufi, berarti harus menaati semua perintah dan larangan Tuhan sesuai dengan apa yang telah disunnahkan Nabi: “Sesungguhnya dalam diri Nabi terdapat teladan yang baik, bagi mereka yang mengharap bertemu Tuhan dan hari kemudian, dan senantiasa mengingat-Nya.” (QS. [3]: 21). “Katakanlah (wahai Muhammad)! jika kalian mencintai Tuhan, ikutilah (sunnah)ku, maka Tuhan akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (QS. [3]: 31).
#30DWCjilid17
#Fightersquad9
#Day11

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post