Selain Tuhan, cinta juga abadi. Pun karena cinta, kita hadir di dunia ini. Dan hanya dengan cinta pula kita bisa kembali kepada cinta sejati kita, Dia Yang Maha Mencintai.
Kehadiran kita di dunia ini adalah buah dari cinta. Saat ayah manusia, Adam as., diciptakan dan menetap di surga, Ia belajar banyak hal dari makhluk lainnya di surga. Kemudian ia merasakan kesendirian yang dalam. Maka Allah kemudian menghadirkan Hawa sebagai teman hidup untuk menghilangkan rasa kesepian dan melengkapi fitrahnya untuk menghasilkan keturunan.
Kisah ayah dan ibu manusia kemudian berlanjut ke dunia, setelah mereka melanggar larangan Allah Swt. dengan memakan buah khuldi. “Turunlah kamu! Sebahagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.” (QS. Al-Baqarah [2]: 36)
Sebelum diturunkan ke bumi, maka Adam bertaubat atas kesalahan yang ia lakukan. Ia telah hanyut dalam bujuk rayu Azazil. Taubat Adam pun diterima dan Allah berfirman: “Turunlah kamu dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhuatiran atas mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
Menurut kisah, Adam diturunkan di Safa (Srilanka) di puncak bukit Sri Pada dan Hawa diturunkan di Marwa. Mereka akhirnya bersatu kembali di Jabal Rahmah setelah 40 hari terpisah. Setelah bersatu, konon Adam dan Hawa menetap di Srilanka.
Kisah lain terkait penciptaan Adam adalah proses penciptaan Adam dari tanah kemudian ditiupkan ruh dari sisi Tuhan. Merupakan kisah penyatuan sisi manusia yang fisik dan Tuhan yang rohani.
Sesungguhnya manusia memiliki dua dimensi dalam dirinya, jasad dan ruh. Dikatakan manusia apabila kedua dimensi tersebut menyatu. Karena apabila telah terpisah maka manusia tidak dikatakan lagi sebagai manusia. Melainkan mayat. Jadi apabila ada manusia yang hidup tanpa memperhatikan dimensi ruh dalam dirinya. Sesungguhnya ia adalah mayat yang berjalan.
Jadi, apabila manusia tidak ingin menjadi mayat hidup. Maka dibutuhkan latihan ruhani dalam hidupnya. Latihan ini dimaksudkan untuk mengasah sisi manusia dalam dirinya. Karena hanya ruhanilah yang mampu merasakan dan menerima cinta Tuhan.
“Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, maka tidak ada kekhuatiran atas mereka…” Petunjuk dari Tuhan yang transenden hanya bisa diterima oleh sisi manusia yang bersumber dari-Nya.
Menurut Sayyid Haidar ‘Amuli (Bagir, 2005, Tasawuf Positif) mengatakan bahwa ada tiga tingkatan manusia yang mampu menerima petunjuk Tuhan secara ruhani. Pertama, Orang kebanyakan (awam). Yaitu orang yang hanya menggunakan akalnya saja. Yang tidak mampu melihat sesuatu kecuali hal yang kasat mata saja. Atau mereka hanya mampu mengetahui bahwa dibalik fenomena di dunia ini, ada sesuatu yang kuasa yakni Tuhan.
Kedua, Mereka para pencari Tuhan, yakni orang-orang yang telah menggunakan intuisinya dan telah mencapai tingkat fana’–kesirnaan diri di dalam Allah Swt. Fana’ adalah satu di antara berbagai keadaan ruhani (ahwal) yang bersifat sementara saja. Pengalaman menyatu dalam Tuhan di mana seakan-akan tubuh menjadi lebur dan hanya Tuhan yang ada. Selain Tuhan hanyalah ilusi atau bayangan yang semu saja.
Dalam pandangan kelompok kedua ini, dunia fenomenal itu tidak memiliki nilai ontologis (kewujudan) karena kesemuanya tidaklah real.
Ketiga, para filsuf-sufi di maqam tertinggi, melihat bahwa dunia eksternal ciptaan-ciptaan ini sesungguhnya benar-benar ada. Bahkan ketika mereka mengalami penglihatan akan Allah, mereka sebenarnya melihat itu sebagai pantulan dari ciptaan-ciptaan-Nya.
Singkatnya proses menuju kepada Tuhan itu, merupakan proses kembali kepada-Nya, menyatu kembali kepada pemilik sejati ruh, Allah Swt.
Ilustrasi berikut ini merupakan gambaran tentang ciptaan dan Sang Pencipta: “Hubungan Allah dan yang bukan-Allah dimisalkan hubungan matahari dan sinarnya. Sinar matahari tak pernah terpisah dari matahari itu sendiri. Tapi, sinar matahari tak sama dengan matahari itu sendiri. Jadi, meski tak pernah terpisah sinar matahari berbeda dengan matahari.”
Oleh karena itu, kalau diibaratkan Tuhan adalah matahari, dan manusia adalah cahaya matahari, maka mari kita selalu menjaga diri kita sebagai bagian tak terpisahkan dari matahari untuk senantiasa berkekalan dengan-Nya di dalam setiap tarikan napas kita.
Menyatukan jasad dan ruh kita. Dengan cara menyatukan praktik syariat dan hakikat dalam satu diri yang bernama manusia. Melaksanakan salat, misalnya, tidaklah cukup apabila akhlak kita tidak mencerminkan sebagai bagian dari-Nya.
Mari menjadi mukmin yang menjalankan Islam secara kaffah. Mempraktikkan perilaku sebagai mukmin yang taat dan senantiasa hidup penuh semangat cinta kasih terhadap sesama. Tidak melihat warna kulit, keyakinan, suku bangsa tetapi melihat mereka sebagai saudara dari ayah dan ibu yang sama, Adam dan Hawa, dan melihat mereka merupakan bagian tak terpisahkan dari-Nya.
Setinggi apa pun maqam (tingkatan ruhani) seseorang dalam perjalanan ruhaniahnya, ia tak akan mampu memahami Allah Swt. secara keseluruhan. Ada ‘aspek-aspek’ Allah yang tak akan pernah bisa dicapai manusia
#30DWCjilid17
#Fightersquad9
#Day29
#Persatuan